Mata bekerja hampir tanpa henti sejak seseorang bangun tidur hingga kembali beristirahat. Kita menggunakannya untuk membaca pesan, bekerja di depan laptop, mengemudi, belajar, menonton hiburan, hingga mengenali wajah orang-orang terdekat. Namun, karena mata selalu dipakai setiap hari, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan penglihatan ketika mulai mengalami mata kering, perih, merah, pandangan kabur, sakit kepala, atau rasa cepat lelah saat menatap layar.
Tidak semua gangguan mata muncul karena penyakit berat. Sebagian keluhan dapat dipicu atau diperburuk oleh kebiasaan kecil yang dianggap normal, seperti mengucek mata dengan tangan kotor, memakai ponsel terlalu lama tanpa jeda, membaca sambil tiduran, atau beraktivitas di bawah matahari tanpa perlindungan ultraviolet atau UV.
Meski demikian, penting untuk memahami satu hal: tidak semua kebiasaan tersebut secara otomatis menyebabkan kerusakan mata permanen. Menatap layar, misalnya, lebih sering berkaitan dengan keluhan sementara seperti mata lelah, kering, atau penglihatan kabur sesaat—bukan bukti bahwa cahaya biru dari layar pasti merusak mata. American Academy of Ophthalmology atau AAO menyatakan bahwa jumlah cahaya biru dari layar komputer belum terbukti menyebabkan penyakit mata, sementara gejala digital eye strain lebih berkaitan dengan cara dan durasi penggunaan perangkat.aao
Namun, kebiasaan yang buruk, berulang, dan dibiarkan tanpa perbaikan dapat mengganggu kenyamanan, meningkatkan risiko cedera atau infeksi tertentu, serta membuat masalah penglihatan yang sudah ada menjadi lebih terasa. Berikut lima kebiasaan sepele yang perlu diwaspadai untuk menjaga kesehatan mata.
Mengapa Kesehatan Mata Perlu Dijaga Sejak Dini?
Kesehatan mata bukan hanya soal dapat melihat dengan jelas. Mata juga berperan dalam keseimbangan, aktivitas belajar, produktivitas kerja, keselamatan saat berkendara, serta kualitas hidup secara keseluruhan.
National Eye Institute atau NEI menyebut pemeriksaan mata komprehensif secara berkala, termasuk pemeriksaan dengan pelebaran pupil bila diperlukan, sebagai salah satu cara terbaik melindungi penglihatan. Pemeriksaan penting karena sejumlah penyakit mata dapat berkembang tanpa gejala awal yang jelas.nei.nih+1
Kebiasaan harian memang tidak dapat mencegah semua penyakit mata. Faktor usia, riwayat keluarga, diabetes, tekanan darah tinggi, cedera, dan kondisi medis tertentu tetap berpengaruh. Namun, kebiasaan yang lebih baik dapat membantu mengurangi keluhan, melindungi permukaan mata, serta membuat seseorang lebih cepat mengenali perubahan yang memerlukan pemeriksaan tenaga profesional.
1. Mengucek Mata dengan Tangan Kotor
Mengucek mata saat terasa gatal, mengantuk, kelilipan, atau lelah adalah refleks yang sangat umum. Sayangnya, tangan adalah bagian tubuh yang mudah membawa kotoran, minyak, alergen, bakteri, maupun virus dari berbagai permukaan yang disentuh sepanjang hari.
Ketika tangan yang belum dicuci menyentuh area mata, risiko iritasi dan penularan kuman dapat meningkat. CDC menekankan pentingnya mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, terutama sebelum dan sesudah membersihkan mata, memakai obat tetes, atau menangani mata yang sedang terinfeksi.cdc
Mengucek mata juga dapat memperburuk masalah pada permukaan kornea. Kornea adalah lapisan bening di bagian depan mata yang membantu memfokuskan cahaya. AAO menjelaskan bahwa mengucek mata, terutama ketika mata sangat kering, termasuk salah satu penyebab abrasi kornea atau lecet pada kornea. Kuku jari, kuas rias, dan benda kecil lainnya juga dapat melukai lapisan ini.aao
Risiko yang Perlu Dikenali
Mengucek mata terlalu keras atau berulang dapat berhubungan dengan beberapa masalah berikut:
Mata semakin merah dan iritasi.
Gatal akibat alergi menjadi lebih parah.
Risiko kotoran atau kuman masuk ke area mata.
Lecet pada kornea, terutama bila ada partikel kecil atau kuku menyentuh mata.
Pemulihan kornea yang lebih lambat jika mata sudah mengalami cedera.
Gejala abrasi kornea dapat berupa nyeri, mata berair, sensitif terhadap cahaya, sensasi mengganjal, kemerahan, atau penglihatan yang menjadi buram. Jika keluhan ini muncul setelah mata tergosok atau kemasukan benda, jangan terus mengucek mata.aao
Kebiasaan Pengganti yang Lebih Aman
Jika mata terasa gatal atau ada benda kecil masuk, lakukan langkah sederhana berikut:
Cuci tangan terlebih dahulu.
Berkedip beberapa kali untuk membantu air mata alami membersihkan permukaan mata.
Bilas mata dengan air bersih yang mengalir atau larutan steril bila tersedia.
Kompres dingin pada kelopak mata yang tertutup jika gatal berkaitan dengan alergi.
Gunakan obat tetes mata sesuai anjuran tenaga kesehatan, terutama jika gejala sering kambuh.
Hindari memakai lensa kontak sampai mata terasa normal atau setelah berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Bila mata terasa sangat sakit, pandangan terganggu, muncul sensitif terhadap cahaya, atau ada benda tajam masuk ke mata, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
2. Menatap Ponsel di Kamar Gelap Sebelum Tidur
Menggunakan ponsel sebelum tidur sudah menjadi rutinitas banyak orang. Satu video berubah menjadi lima video, satu pesan berubah menjadi sesi menggulir media sosial selama satu jam. Ketika dilakukan di kamar yang gelap, mata harus terus menyesuaikan diri dengan layar terang di lingkungan sekitar yang minim cahaya.
Kebiasaan ini dapat membuat mata terasa tegang, kering, perih, atau berair. Menatap layar dalam waktu lama juga membuat seseorang cenderung lebih jarang berkedip. Padahal, kedipan membantu menjaga permukaan mata tetap lembap.
AAO menjelaskan bahwa penggunaan perangkat digital dalam waktu lama dapat menyebabkan ketidaknyamanan sementara seperti mata lelah, mata kering, sakit kepala, penglihatan kabur, serta nyeri pada leher dan bahu. Namun, AAO menegaskan bahwa digital eye strain tidak disebabkan oleh cahaya biru dari layar dan belum ada bukti bahwa cahaya biru dari perangkat digital dalam jumlah kecil menyebabkan penyakit mata.aao+1
Jadi, masalah utamanya bukan sekadar “radiasi ponsel merusak mata”, melainkan pola penggunaan layar: terlalu lama, terlalu dekat, tanpa jeda, dengan pencahayaan yang tidak nyaman, dan dilakukan menjelang waktu tidur.
Cara Mengurangi Mata Lelah Akibat Layar
Gunakan prinsip 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh sekitar 20 kaki atau 6 meter selama setidaknya 20 detik. Strategi ini direkomendasikan AAO dan American Optometric Association untuk membantu mata beristirahat dari aktivitas fokus jarak dekat.aao+1
Selain itu, lakukan beberapa penyesuaian berikut:
Atur kecerahan layar agar tidak jauh lebih terang daripada lingkungan sekitar.
Jangan memakai ponsel dalam ruangan yang benar-benar gelap; gunakan pencahayaan lembut.
Jaga jarak layar dan hindari menatap perangkat terlalu dekat.
Perbesar ukuran teks agar mata tidak bekerja terlalu keras.
Sering berkedip secara sadar, terutama saat membaca atau bermain gim.
Kurangi waktu layar menjelang tidur untuk membantu kualitas tidur.
Jika mata terus merah, berair, kabur, sangat sensitif terhadap cahaya, atau terasa sakit, AAO menyarankan pemeriksaan ke dokter mata.aao
3. Membaca atau Bermain Ponsel Sambil Tiduran
Membaca buku atau bermain ponsel sambil tiduran memang terasa nyaman, terutama sebelum tidur. Namun, posisi ini sering membuat jarak antara mata dan layar atau buku menjadi terlalu dekat. Sudut pandang juga dapat berubah-ubah, pencahayaan kurang ideal, dan tubuh sulit mempertahankan posisi yang stabil.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan ketegangan saat mata melakukan fokus dekat dalam waktu lama. Akibatnya, seseorang dapat mengalami mata cepat lelah, pusing, penglihatan kabur sementara, atau rasa tidak nyaman pada leher dan bahu.
Sebuah studi observasional pada anak dan remaja di China mengelompokkan membaca sambil berbaring, membaca sambil berjalan, atau membaca di kendaraan bergerak sebagai kebiasaan membaca dengan postur yang kurang baik. Studi itu menemukan adanya hubungan antara postur membaca yang kurang baik dan risiko miopia, terutama ketika juga disertai faktor keturunan miopia dari orang tua. Namun, penelitian observasional tidak dapat membuktikan bahwa membaca sambil tiduran sendirilah yang secara langsung menyebabkan rabun jauh.pmc.ncbi.nlm.nih
Bukan Penyebab Tunggal Rabun Jauh
Penting untuk tidak menyederhanakan masalah. Miopia dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, durasi aktivitas jarak dekat, waktu di luar ruangan, usia, dan kondisi lingkungan. Membaca sambil tiduran bukanlah satu-satunya penyebab dan tidak otomatis membuat seseorang mengalami rabun jauh.
Namun, posisi membaca yang baik tetap bermanfaat untuk kenyamanan dan kebiasaan visual. Gunakan meja atau posisi duduk jika memungkinkan, jaga bahan bacaan pada jarak nyaman, dan pastikan pencahayaan cukup.
Posisi Membaca yang Lebih Sehat
Agar mata tidak cepat lelah, cobalah menerapkan kebiasaan berikut:
Duduk dengan punggung tersangga saat membaca atau menggunakan laptop.
Letakkan buku atau layar pada jarak yang nyaman, tidak terlalu dekat dengan wajah.
Gunakan pencahayaan yang cukup dan tidak menyilaukan.
Hindari membaca di kendaraan bergerak dalam waktu lama karena mata perlu terus menyesuaikan fokus.
Beri jeda secara berkala, terutama saat belajar atau bekerja dengan bahan bacaan kecil.
Kebiasaan ini tidak menjamin seseorang bebas dari miopia, tetapi membantu mengurangi ketegangan visual yang tidak perlu.
4. Melupakan Kacamata Hitam saat Beraktivitas di Bawah Matahari
Banyak orang memakai sunglasses atau kacamata hitam hanya sebagai aksesori. Padahal, fungsi utamanya adalah membantu melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet, terutama UVA dan UVB.
Paparan UV berlebih dapat berdampak pada jaringan mata. WHO menyatakan bahwa paparan radiasi UV dapat menimbulkan efek akut seperti fotokeratitis dan fotokonjungtivitis, yaitu peradangan pada kornea dan konjungtiva. Dalam jangka panjang, paparan UV juga berperan dalam perkembangan katarak dan kemungkinan degenerasi makula terkait usia.who
WHO memperkirakan terdapat sekitar 15 juta orang di dunia yang mengalami kebutaan akibat katarak, dan sekitar 10 persen dari kasus tersebut mungkin berkaitan dengan paparan radiasi UV.who
AAO turut mengingatkan bahwa paparan UV dari sinar matahari dapat merusak jaringan permukaan mata, kornea, serta lensa. Dalam pernyataan resmi, dokter mata Michael Kutryb mengatakan bahwa menggunakan kacamata yang menghalangi UV dapat membantu menurunkan risiko penyakit mata dan tumor yang berpotensi mengganggu penglihatan.aao
Kacamata Gelap Belum Tentu Melindungi UV
Warna lensa yang gelap tidak otomatis berarti aman. Kacamata hitam tanpa perlindungan UV yang memadai justru dapat membuat pupil melebar karena kondisi terlihat lebih redup, sementara radiasi UV tetap masuk ke mata.
Pilih kacamata yang mencantumkan:
Perlindungan UV 99–100 persen.
Perlindungan UVA dan UVB.
Label UV400 bila tersedia.
Desain yang cukup menutup area sekitar mata, terutama untuk aktivitas luar ruangan.
Lensa berkualitas dan nyaman digunakan.
WHO merekomendasikan penggunaan kacamata model wraparound yang memberikan perlindungan 99–100 persen terhadap UVA dan UVB. Kacamata hitam sebaiknya digunakan bukan hanya ketika cuaca sangat terik, melainkan saat berada di luar ruangan pada siang hari, termasuk ketika langit tampak berawan karena paparan UV tetap dapat terjadi.who
5. Mengabaikan Kebersihan Lensa Kontak dan Tangan
Bagi pengguna lensa kontak, kebersihan tangan dan lensa bukan detail kecil. Lensa kontak menyentuh langsung permukaan mata. Kesalahan dalam penggunaan, penyimpanan, atau pembersihan dapat meningkatkan risiko iritasi dan infeksi.
CDC menyarankan pengguna lensa kontak mencuci tangan dengan sabun dan air, lalu mengeringkannya dengan kain bersih sebelum menyentuh lensa. CDC juga menyarankan untuk tidak tidur menggunakan lensa kontak kecuali memang diarahkan oleh tenaga kesehatan mata.cdc
Air biasa juga bukan pengganti cairan lensa. CDC memperingatkan agar lensa kontak tidak dibilas atau disimpan dalam air. Air dapat membuat lensa lunak berubah bentuk, membengkak, atau menempel pada mata. Kondisi tersebut dapat menggores kornea dan memudahkan kuman masuk ke mata sehingga memicu infeksi.cdc
Kesalahan yang Perlu Dihindari Pengguna Lensa Kontak
Berikut kebiasaan yang sebaiknya tidak dilakukan:
Memasang atau melepas lensa tanpa mencuci tangan.
Tidur menggunakan lensa kontak tanpa rekomendasi dokter.
Membilas lensa dengan air keran, air minum, atau air liur.
Memakai kembali cairan lensa bekas.
Menggunakan lensa lebih lama daripada masa pakainya.
Berenang atau mandi dengan lensa kontak tanpa perlindungan yang sesuai.
Tetap menggunakan lensa ketika mata merah, nyeri, atau sensitif terhadap cahaya.
Jika pengguna lensa kontak mengalami mata merah, nyeri, pandangan kabur, keluar cairan, atau sensitif terhadap cahaya, lepaskan lensa dan segera periksa ke dokter mata atau fasilitas kesehatan. Jangan mencoba mengatasi keluhan serius hanya dengan obat tetes yang dibeli tanpa pemeriksaan.
Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
Tidak semua keluhan mata dapat diatasi dengan istirahat atau mengurangi waktu layar. Segera cari pertolongan medis bila Anda mengalami:
Nyeri mata yang hebat atau mendadak.
Penurunan penglihatan yang tiba-tiba.
Kilatan cahaya, banyak bintik atau floaters yang muncul mendadak, atau sensasi seperti ada tirai menutup pandangan.
Mata merah disertai nyeri, mual, sakit kepala, atau pandangan kabur.
Cedera akibat benda tajam, bahan kimia, atau benturan keras.
Sensitivitas berat terhadap cahaya.
Mata merah dan bernanah, terutama pada pengguna lensa kontak.
Keluhan yang tidak membaik setelah beberapa hari.
Pemeriksaan mata rutin juga penting, terutama bagi orang dengan diabetes, hipertensi, riwayat keluarga glaukoma, penggunaan obat tertentu, keluhan penglihatan, atau usia yang semakin bertambah. NEI menegaskan bahwa pemeriksaan mata komprehensif secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah sebelum kerusakan penglihatan menjadi berat.nei.nih
Penutup
Menjaga kesehatan mata tidak selalu membutuhkan langkah rumit. Kebiasaan kecil seperti mencuci tangan sebelum menyentuh mata, memberi jeda saat menggunakan layar, membaca dengan posisi dan pencahayaan yang lebih baik, memakai kacamata berproteksi UV, serta merawat lensa kontak secara benar dapat membantu melindungi penglihatan sehari-hari.
Yang perlu dihindari adalah menyebarkan ketakutan berlebihan. Menatap layar atau membaca sambil tiduran tidak otomatis menyebabkan kebutaan. Namun, cara penggunaan yang tidak nyaman dan dilakukan terus-menerus dapat membuat mata lebih cepat lelah serta memperburuk keluhan yang sudah ada.
Mata tidak selalu langsung memberi peringatan saat mengalami masalah. Karena itu, jangan menunggu hingga pandangan terasa sangat terganggu. Perbaiki kebiasaan hari ini, lakukan pemeriksaan secara berkala, dan segera konsultasikan ke tenaga kesehatan mata bila muncul gejala yang tidak biasa.
Sumber Referensi
World Health Organization. “Ultraviolet Radiation.” Informasi tentang dampak UV pada mata, fotokeratitis, katarak, dan rekomendasi perlindungan UVA-UVB.who
American Academy of Ophthalmology. “Digital Devices and Your Eyes.” Penjelasan mengenai digital eye strain, cahaya biru layar, serta aturan 20-20-20.aao
American Academy of Ophthalmology. “Corneal Abrasion and Erosion.” Informasi tentang risiko mengucek mata dan abrasi kornea.aao
American Academy of Ophthalmology. “The Sun, UV Light and Your Eyes.” Penjelasan resmi mengenai dampak sinar UV bagi kornea, lensa, dan jaringan permukaan mata.aao
Centers for Disease Control and Prevention. “Preventing Eye Infections When Wearing Contacts.” Panduan kebersihan tangan serta penggunaan lensa kontak yang aman.cdc
Centers for Disease Control and Prevention. “Healthy Habits: Keeping Water Away from Contact Lenses.” Peringatan agar tidak membilas atau menyimpan lensa kontak dalam air.cdc
National Eye Institute. “Healthy Vision Resources.” Rekomendasi pemeriksaan mata rutin dan penggunaan kacamata hitam saat beraktivitas di luar ruang.nei.nih
Zhang, X. dkk. “Influence of the Interaction Between Parental Myopia and Poor Eye Habits on Myopia in Chinese Children and Adolescents.” BMC Ophthalmology, 2021. Studi observasional tentang hubungan kebiasaan membaca dan risiko miopia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar.